Biaya Pemilu yang mencapai 150 Trilyun

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, itu kalau dilihat dari segi jumlah penduduknya. Tapi kalau dilihat dari segi jumlah pelaksanaan Pemilu maka Indonesia nomor satu. Maka dari itu saya berani katakan bahwa Indonesia adalah negara paling demokratis di dunia. Karena semua berprinsip “dari rakyat untuk rakyat” Presiden dan wakil Presiden dipilih langusng oleh rakyat, Gubernur, walikota, Bupati semua dipilih oleh rakyat. dibanding di India, Perdana menterinya hanya dipilih oleh 500 anggota DPR.
Namun demikian, kalau mau dilihat dari jumlah anggaran yang digunakan, maka Pemilu kita juga yang paling mahal. Belum lagi ditambah kekisruhan sosial yang sering terjadi pada hampir semua Pilkada. Di ternate sampai-sampai perekonomian tidak jalan karena konflik PILKADA yang berkepanjangan. Hal ini disebabkan karena sistem Pemilu kita yang tidak efesien Kalau mau dihitung jumlah frekuensi rakyat ke TPS bisa mencapai 7 kali dalam 5 tahun. Pemilihan Bupati Bupati/Walikota 1 kali, Gubernur 1 kali, DPD 1 kali, Presiden 1 kali. Dan sering kejadian pemilihan Bupati/walikota dan Gubernur, bisa sampai dua putaran demikian juga dengan Pilpres. jadi bisa sampai 7 kali. Apalagi kalau ditambah Lurah dipilih lagi lewat TPS, maka bisa 8 kali, betapa tidak efesiennya sistem pemilu kita.
Apalagi di Indonesia Pemilunya masih sangat manual, sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 sampai saat ini, belum ada terjadi perubahan signifikan pada sistem pemilu kita,nhanya perubahan dari coblos ke contreng. Tapi semua masih manual, Kalau di Amerika juga di India, orang sudah paperless, tanpa surat, tanpa kertas lagi, semua sudah komputerisasi. Kalau di Indonesia kepercayaan terhadap teknologi masih kurang, kita selalu mencurigai sistem IT. Akhirnya semua dikerjakan dengan cara manual, satu persatu dihitung, diteken kiri-kanan. Padahal untuk beli kertas saja negara harus mengeluarkan dana sampai triliunan rupiah.

Jangan sampai negara kita bangkrut karena sistem Pemilu kita yang tidak efesien. Apalagi sekarang kan tahun krisis, jadi kita harus berhemat. kalau uang kita habis, kita tidak punya tempat berutang lagi karena semua negara pemberi pinjaman lagi kesusahan karena krisis. Jangan sampai pasca Pemilu, pendidikan menjadi susah, kesehatan menjadi susah, pembangunan infrastruktur tidak jalan karena semua uang sudah kita habiskan untuk pelaksanaan pemilu.

Untuk itulah semenjak tahun lalu, saya sebagai Wakil Presiden, sudah meminta MENDAGRI untuk segera menyusun sistem pemilu yang lebih terkoordinasi untuk masa yang akan datang. Tidak perlu Rakyat harus ke TPS 8 kali dalam 5 tahun, Cukup 3 kali lah dalam lima tahun. Dan saya sebagai ketua Golkar meminta kepada semua Anggota DPR dari Golkar untuk melakukan hal yang sama. Itulah enaknya menjadi wakil Presiden dan Ketua Umum Partai, jadi bisa mengatur eksekutif dan juga legislatif.

3 komentar to "Biaya Pemilu yang mencapai 150 Trilyun"

Posting Komentar

Followers

About This Blog

Web hosting for webmasters